Memiliki relasi luas dan bermanfaat tentu menjadi keinginan banyak orang. Mudahnya mendapatkan informasi seputar kegiatan sosial, akademis, hingga lowongan pekerjaan senantiasa mengalir deras. Hal inilah yang membuat Nurul Endahwati, alumni Sarjana Manajemen Bisnis Reguler angkatan 10 “ketagihan” memperluas jejaring sejak masih menjadi mahasiswa di PPM SoM hingga kini telah memasuki dunia kerja.

Pada saat awal perkuliahan, Nurul menjalani hari dengan menjadi mahasiswa “kupu-kupu” alias ‘kuliah-pulang-kuliah-pulang’. Kegiatan berelasi bukanlah hal yang lumrah baginya. Akan tetapi, lama-kelamaan Nurul mulai merasakan dorongan untuk lebih memanfaatkan waktu luang dan memperluas jejaring pertemanan dengan mengikuti banyak kegiatan di kampus.

Berkecimpung dalam organisasi mempertemukan Nurul dengan berbagai macam karakter orang. Pribadinya yang dahulu pemalu mulai lebih terbuka dengan anggota organisasi yang diikutinya. Meskipun awalnya khawatir dicap sok kenal sok deket (SKSD), akhirnya kekhawatirannya sirna oleh respon positif yang diterima dari rekan-rekannya. Nurul mengatakan bahwa penting untuk berani membuka diri dan membaur dengan masyarakat sebagai langkah pertama dalam menjalin relasi. Pasalnya, sekali kita telah berhasil menaklukkan rasa takut dan malu, serta merasa nyaman berelasi akan timbul rasa ‘ketagihan’ untuk menjalin jejaring di tempat lain lagi. Selain mengikuti organisasi diluar kampus, Nurul juga aktif sebagai anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan menjadi perwakilan kampus dalam kompetisi bisnis skala nasional

Nurul menyampaikan beberapa benefit yang ia rasakan dengan membangun relasi. Pertama, ia dapat mengenal lebih banyak orang dari berbagai daerah.  Kedua, semakin banyak orang yang kita kenal rasa percaya diri pun makin meningkat. Mungkin dampak ini tidak selalu dapat langsung dirasakan, namun akan timbul dengan sendirinya.

Kemudian, pengalaman berorganisasi bisa menjadi kisah menarik untuk diceritakan kepada bagian Sumber Daya Manusia / Human Capital ketika melamar pekerjaan. Saat ini, kecerdasan akademis saja tidak cukup untuk menjamin seorang diterima di suatu pekerjaan. Pengalaman yang dimiliki serta soft skill yang diperoleh selama berorganisasi maupun berkuliah dapat menjadi nilai tambah bagi calon karyawan.

Ketika ditanya pernahkah Nurul merasa kelelahan mengikuti sekian banyak organisasi? “Pernah sih, pernah capek. Tapi yang tahu kondisi kita adalah diri kita sendiri. Jadi, kalau memang dirasa capek itu waktunya untuk kita istirahat,”. Nurul juga menambahkan perlunya menyesuaikan jadwal antar organisasi yang diikuti agar tidak saling berbenturan. Apabila jadwal kegiatan satu dan yang lainnya terjadi bersamaan, Nurul akan memprioritaskan berdasarkan dua pertimbangan: pertama adalah mana yang telah dimulai / melakukan janji terlebih dahulu; dan kedua adalah kegiatan mana yang akan berdampak lebih besar apabila tidak dilaksanakan.

Kesukaan Nurul berjejaring tidak terlepas dari efek yang ia rasakan ketika mengikuti mata kuliah pengembangan diri (self-development) di semester 2. Kala itu ia memilih peminatan leadership. Mulai dari dipercaya menjadi ketua kelompok, ketua kelas, hingga menjadi ketua proyek acara eksternal, yang mengharuskan Nurul berkomunikasi dengan banyak orang. Akhirnya, bukan hanya skill leadership yang ia kuasai namun juga networking yang kini menjadi andalannya dalam berkarir.

Kini ia bekerja sebagai Strategic & Planner Academic di PT Pendidikan Maritim dan Logistik Indonesia. Di posisinya sekarang, ia bertanggung jawab menangani para pelatih (trainer) untuk mengembangkan kinerja sumber daya manusia di perusahaannya. Selain itu, ia harus dapat menyampaikan kepada vendor kriteria seperti apa yang diinginkan dari para trainer sehingga sesuai dengan kebutuhan dan tujuan kegiatan training yang akan dilaksanakan. Dengan jejaring yang telah ia miliki sekarang, peluang untuk mendapatkan trainer yang didambakan dirasa semakin mudah karena ia telah mengenal vendor-vendor terpercaya dari kebutuhan-kebutuhan terdahulu.

Nurul pun memberikan tips bagi mahasiswa yang ingin membangun jejaring. Menurutnya, tidak ada standar umum yang dapat dijadikan patokan apakah seorang mahasiswa cocok bergabung dengan organisasi tertentu. Cocok atau tidaknya disesuaikan dengan passion masing-masing. “Jangan masuk organisasi karena terpaksa atau ikut-ikutan, kecuali kalau memang disukai,” pesannya. Selain itu, pastikan juga organisasi tersebut bermanfaat bagi kita. Terakhir, pastikan untuk menjaga komitmen dan tanggung jawab terhadap organisasi. Apabila merasa tidak cocok, jangan main asal keluar saja. Bicarakanlah baik-baik dengan anggota lain, sehingga apabila suatu ketika ingin kembali bergabung image kita tidak rusak dan dicap jelek.

Dengan mengutip quote dari Gary Vaynerchuk, “Saying hello doesn’t have an ROI (return on investment). It’s about building relationship,” Nurul mengajak teman-teman mahasiswa untuk tidak hanya mencari jejaring, tetapi juga menjaganya. Penting untuk turut menjaga jejaring karena bisa saja kelak kita akan membutuhkan kontribusi dari para pihak tersebut lagi.

Yuk, mulai menjalin relasi!

Ditulis oleh Karima Salsabila
Penulis Cognito PPM School of Management

Jadi tunggu apalagi, yuk gabung dan daftarkan akun anda di platform PPM Network. Dukungan alumni dan mahasiswa sangat penting untuk menjaga kebanggaan terhadap kampus PPM School of Management tetap menyala! 

Klik di sini untuk info selengkapnya.