Cepatnya Pasar Saham Merespon Informasi

Cepatnya Pasar Saham Merespon Informasi

Oleh Novy Silvia Dewi M.M.  Ketua Program Sarjana Akuntansi Bisnis PPM School of Management
*Tulisan ini dimuat di Majalah Sindo Weekly No. 44-45 Tahun VI, 1-14 Jan 2018 p. 82

 

Ada sebuah artikel di suatu surat kabar ekonomi dengan judul, “Ada apakah dengan Dirimu, AISA?” hal ini membuat saya tersenyum, lalu tertarik untuk membaca lebih jauh. Siapakah AISA itu? kok bisa ya dia masuk dalam surat kabar ekonomi?

AISA atau lebih sering kita kenal sebagai PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk. pada awal 2017 lalu tersandung masalah divestasi di bisnis berasnya. Imbasnya adalah merosotnya harga saham AISA hingga masuk dalam zona merah. Per 4 Desember 2017 ini, harga saham AISA berada di level Rp540 per saham dan dalam tiga bulan terakhir saham AISA turun hingga 47,83%. Apakah sebegitu cepatnya pasar saham merespons suatu informasi dan kinerja suatu perusahaan?

Respon pasar dan investor sangat tercermin jelas pada seberapa besar nilai suatu perusahaan dihargai oleh bursa efek. Jika kita lihat berbagai surat kabar bisnis, informasi mengenai kinerja sektor-sektor BUMN tahun ini memang tidak cukup sedap dibaca. Sebut saja contohnya pada 6 Desember 2017 lalu, ada sebuah tabloid bisnis yang memberitakan “Saham BUMN Kontruksi Ambruk”. Inikah saatnya investor memborong saham-saham perusahaan konstruksi, atau justru investor harus berhati-hati? Lalu, bagaimana harga-harga saham tersebut bisa bergerak?

Tidak mudah memang bagi orang awam memaknai pergerakan harga saham yang setiap saat berubah. Ada literatur yang menjelaskan bahwa harga saham bergerak sesuai dengan permintaan dan penawaran yang terjadi, tetapi ada juga literatur yang menyebutkan bahwa harga saham digerakkan atau dikendalikan oleh broker.

Selain itu, pergerakan harga saham besar kemungkinannya dipengaruhi oleh kondisi atau kinerja keuangan perusahaan. Kinerja perusahaan merupakan suatu hal yang sangat penting karena berpengaruh untuk mengetahui apakah perusahaan mengalami perkembangan atau sebaliknya.

Ukuran kinerja perusahaan yang paling lama dan paling banyak digunakan adalah kinerja keuangan yang diukur dari laporan keuangan perusahaan. Kinerja keuangan dapat diukur melalui rasio return on asset, earning per share dan price earning ratio.

Rasio-rasio tersebut merupakan indikator yang amat penting bagi para pemegang saham atau investor dalam menilai seberapa baik manajemen menggunakan sumber daya perusahaan. Bertambahnya permintaan akan saham pada perusahaan tersebut menunjukkan bahwa kinerja keuangan perusahaan cukup kuat dengan prospek jangka panjang yang baik. Demikian sebaliknya, harga saham akan semakin menurun apabila permintaan saham tersebut menurun.

Menariknya adalah, bagaimana caranya agar bisa mendapatkan keuntungan dari investasi saham? Cara yang paling umum dan sederhana adalah dengan membeli saham saat harga rendah dan menjualnya saat harganya tinggi. Simpel bukan? Ada juga metode lain meraih keuntungan saham, seperti pembagian dividen, dan melakukan SHORT (memprediksi harga saham akan jatuh).

Bagian yang paling penting lainnya dalam investasi saham adalah menganalisis saham tersebut. Menganalisis saham untuk mendapatkan keuntungan berarti harus tahu kapan harus masuk untuk membeli saham dan kapan harus keluar untuk menjual saham. Kebanyakan orang saat berinvestasi hanya mendengar rumor, mengandalkan insting atau perasaan,  melihat berita, mendengar gosip, dan lain-lain. Namun, itu adalah cara yang paling berbahaya jika Anda berminat serius dalam menggeluti investasi saham.

Salah satu pola grafik saham yang menguntungkan adalah pola “Cup with handle”, yakni pola yang memberikan kita informasi saat yang tepat untuk membeli saham (saat harga rendah). Dengan pola ini, prediksi yang terjadi adalah pasar sedang naik atau positif (bullish). Artinya, kita mau masuk pasar saat harga baru naik. Dalam pola tersebut, apa yang terjadi adalah harga saham sempat naik, kemudian harga turun sekitar 30%, kemudian naik lagi sekitar 30%. Pola ini terjadi sekitar 5-7 pekan lamanya.

Hal itu menunjukkan bahwa saham tersebut sedang laris sehingga di awal ada respons menjual saham dari pasar. Namun, kemudian banyak yang membeli lagi karena mungkin prospek saham tersebut sedang bagus. Di situlah saat yang tepat bagi kita untuk masuk. Jadi,  tidak terlalu awal dan juga tidak terlalu akhir saat harga sudah melonjak tinggi.

Bagaimana dengan bonus akhir tahun Anda? Tidak ada salahnya jika menginvestasikannya dalam saham.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *