“Bahwa Menjadi Muda Bukanlah Halangan”

“Bahwa Menjadi Muda Bukanlah Halangan”

 

| ALUMNI CORNER #1

Dicky Torethy Nasution
Group Sales Manager. Citilink Indonesia
Alumni SMB Reguler 8

Menurut sebagian orang, memiliki umur muda juga berarti memiliki pengalaman yang sedikit dalam hidup, dan hal itu kerap kali menjadi halangan untuk bisa memimpin di usia muda. Namun nyatanya  tidak berlaku bagi Dicky Torethy Nasution alumni PPM SoM angkatan SMB 8, seorang yang kini telah menjabat sebagai Group Sales Manager di Citilink Indonesia pada usia 25 tahun. Dicky telah mematahkan anggapan bahwa di usia muda menjadi pemimpin adalah hal yang niscaya. Ketika ditanya tentang apa saja yang bisa membuatnya sampai menjadi seperti ini, Dicky menjawab bahwa perjalanan hidupnya tidaklah mulus dan semua itu membuatnya menjadi lebih berani.

Pada saat awal memasuki masa perkuliahan mungkin “berprestasi” akan sangat jauh dari Dicky bahkan Ia menganggap bahwa dirinya adalah pribadi yang sangat nakal. Euforia atas kebebasan masa kuliah dan pergaulan anak Menteng mengubah Dicky menjadi pribadi yang tidak mementingkan persoalan akademis. Di tahun pertama saat Ia berkuliah, bahkan IPK-nya tidak mencapai 2,5 dan hal ini lah yang menjadi turning point dalam hidupnya. Berawal dari rasa sedih karena telah mengecewakan ayahnya dengan nilai IPK yang rendah, Dicky mulai mengubah gaya pergaulannya. Ia mulai menjalin hubungan pertemanan dengan teman-teman yang peduli dengan akademis, yang berujung pada peningkatan nilainya . Pada akhirnya, ia lulus dengan predikat memuaskan.

Selepas dari masa kuliah, layaknya kebanyakan orang Dicky mulai mencari kerja, tanpa bantuan orang tua Dicky mulai melamar ke beberapa perusahaan mulai dari industri otomotif hingga ke industri penerbangan. Beberapa perusahaan besar dunia otomotif sempat melirik Dicky namun akhirnya Ia memutuskan untuk masuk ke Citilink, perusahaan tempatnya kerja praktik dulu. Ya, di PPM SoM, kerja praktik merupakan kegiatan wajib yang harus dilakukan mahasiswa. Tak jarang, para mahasiswa kemudian langsung direkrut untuk menjadi karyawan tetap, setelah mereka lulus.

Pada awal masa kerjanya di Citilink, Dicky menempati posisi sebagai staff bagian Customer Loyalty and Retention. Pada saat itu, Dicky dan timnya berhasil membuat sebuah program customer loyalty yang diberi nama “Super Green Garuda Miles” yang kini telah menjadi “Garuda Miles”. Setelah sukses di divisi Customer Loyalty and Retention, Dicky berpindah ke divisi Cargo Business Development dimana Ia menjadi kordinator sales untuk wilayah Jakarta dan internasional. Pada saat inilah Ia menjadi kordinator sales dan bersama-sama dengan timnya, berhasil meningkatkan penjualan hingga 80% untuk penjualan cargo. Dari semua pencapaian-pencapaian tersebut, setelah tiga tahun bekerja di citilink akhirnya Dicky dapat menduduki posisi Group Sales Manager hingga saat ini.

Selama menjalani pekerjaan tentunya bukan hanya hal-hal menyenangkan saja yang terjadi. Ia juga mengalami hal-hal yang sulit. Dicky meceritakan bahwa pada saat bekerja Ia pun tak luput dari kesalahan, bahkan Ia pernah dimarahi oleh atasan di depan umum. “Dulu saya pernah dimarahi oleh bos saat sedang mempresentasikan ide saya. Saya diserang di depan audiens rapat lain terkait perhitungan yang salah. Namun demikian, menurut saya dimarahi adalah hal yang biasa. Hal tersebut menuntut kita untuk menemukan solusi dari kesalahan. Pemimpin yang baik harus bisa memberikan solusi”

Ketika ditanya arti penting masa kuliah,  Ia menjawab bahwa masa kuliah telah menjadi salah satu tempat yang menempanya hingga bisa menjadi pribadi yang saat ini. Dengan adanya ospek pada masa kuliah, memaksanya untuk dapat berpikir cepat meski dalam tekanan. Lewat organisasi kampus yang Ia dirikan bersama 3 orang temannya (Jakarta Internasional Economic Society), membuat Dicky menjadi lebih kritis dan berani untuk mengemukakan pendapat. Bahkan pada mata kuliah seperti self- development yang ada di PPM SoM, membuat Dicky memiliki semangat untuk dapat mengembangkan dirinya menjadi lebih baik.

“Waktu itu ada pelajaran Self-Development dan saya memilih topik passion for growth guna memperdalam lagi keinginan saya untuk berkembang. Pada mata kuliah itu saya memiliki project membuat majalah anak dengan harga murah agar bisa dijangkau oleh anak-anak dengan latar belakang ekonomi lemah”

Dicky bercerita bahwa menjadi pemimpin di usia muda bukanlah perkara yang mudah, salah satunya adalah  mendapatkan respect dari rekan-rekan kerjanya yang lebih senior. “Saat ini saya memimpin sebagai Group Sales Manager di perusahaan saya, dan kebanyakan rekan kerja dalam tim saya berusia lebih tua dari saya. Saya membutuhkan waktu 1 bulan agar dapat menyatu dengan mereka”. Dicky juga menjelaskan bahwa komunikasi merupakan hal yang penting untuk dipupuk terlepas dari jabatan apa yang dimiliki. Menurutnya, kebanyakan permasalahan seseorang tidak bisa menjadi pemimpin yang baik adalah karena mereka tidak bisa rendah hati. Dicky menjelaskan bahwa dengan menjadi rendah hati, seorang pemimpin akan lebih mudah untuk dapat berkomunikasi dengan rekan-rekan kerjanya. Ia juga merasa bahwa pemimpin seharusnya dapat menjadi pendengar yang baik dan menghargai setiap pemikiran yang dikemukakan oleh orang lain, meskipun terkadang tidak semua pemikiran itu bagus. Namun demikian, semua buah pikiran patut untuk dihargai.

Dicky berpesan kepada seluruh mahasiswa PPM SoM bahwa untuk menjadi sukses, hal utama yang dibutuhkan adalah sebuah keberanian. Permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia dalam kepemimpinan adalah rasa takut, “Mayoritas orang Indonesia itu takut untuk unjuk kemampuan, bahkan menjadi pemimpin di usia muda dianggap menjadi hal yang belum umum. Padalah jika kita mempunyai kompetensi, ya seharusnya kita harus berani menunjukkan hal tersebut”.

Dari Dicky kita belajar bahwa usia bukanlah halangan. Juga, jadilah pemimpin yang baik tanpa harus bersikap bossy. Komunikasi yang baik adalah kunci dan menjadi humble adalah kunci untuk dapat membuat orang lain merasa diperhatikan dan dihargai.

 

Sukses terus untuk Dicky!